ESSENSI.ID – Pasangan pengantin Aldi (32) dan Feny (32) mengaku menjadi korban dugaan penipuan wedding organizer (WO) yang berkantor di kawasan Jakarta Timur. Akibat kejadian tersebut, resepsi pernikahan mereka tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya dan hanya berlangsung sangat sederhana tanpa dekorasi maupun hidangan.

Meski demikian, pasangan ini tetap berupaya agar prosesi akad nikah dapat berlangsung dengan bantuan sejumlah vendor yang mereka hubungi secara langsung. Beberapa vendor seperti MUA, MC, penata rambut, hingga penyedia busana pengantin bersedia membantu meski dilakukan secara darurat.

Resepsi akhirnya tidak dapat digelar sebagaimana rencana awal, namun pihak gedung masih memberikan fasilitas agar akad nikah tetap bisa dilangsungkan secara sederhana selama sekitar satu hingga dua jam. Kondisi tersebut membuat acara berlangsung jauh dari konsep yang telah direncanakan sebelumnya.

Feny menjelaskan bahwa sebelum hari pelaksanaan, dirinya dan Aldi sempat melakukan fitting pakaian pengantin di kantor WO yang berada di kawasan Jakarta Garden City (JGC), Cakung. Mereka juga telah melakukan pelunasan pada awal April 2026, sehingga tidak menaruh curiga pada awalnya.

Kecurigaan mulai muncul saat technical meeting (TM) yang dilakukan secara daring dan berlangsung sangat singkat. Menurut Feny, banyak detail penting tidak dijelaskan secara rinci oleh pihak WO.

“Technical meeting cuma sekitar 10 menit dan sangat tidak detail. Saya tanya soal rundown, alur masuk venue, pembagian sesi tamu, semuanya dijawab nanti diinformasikan satu hari sebelum acara (H-1),” jelas Feny.

Tanda-tanda masalah semakin terlihat ketika Feny mengetahui adanya keluhan dari klien lain terkait layanan WO tersebut, seperti keterlambatan katering hingga ketidaksesuaian jumlah makanan. Puncaknya, pada H-10 sebelum acara, pihak Gedung Islamic Center Bekasi menghubungi mereka dan menyampaikan adanya kekurangan pembayaran dari pihak WO.

“Dari pihak Islamic Center bilang masih kurang pembayaran sekitar Rp 17,5 juta. Ternyata, pihak WO baru bayar DP sekitar Rp6 juta,” ujar Feny.

Aldi mengatakan bahwa mereka sudah mencoba menghubungi pihak WO berulang kali, namun tidak mendapat kejelasan. Hingga pada H-1 acara, mereka mendatangi kantor WO di JGC dan menemukan lokasi tersebut sudah kosong.

“Pas kita datang, ternyata galerinya sudah kosong. Kata orang sekitar, pindah ke Rorotan,” ungkap Aldi.

Setelah itu, mereka mencari keberadaan pihak WO di kawasan Rorotan. Di lokasi tersebut, pihak pengelola WO masih memberikan sejumlah alasan terkait pembayaran venue.

“Kita minta kepastian pembayaran karena sudah H-1. Mereka bilang deposito belum cair dan janji akan dibayar jam empat sore,” ucap Aldi.

Bahkan, pihak WO sempat membuat dan menandatangani surat pernyataan bermaterai terkait tanggung jawab pelaksanaan acara. Namun setelah itu, pemilik WO pergi dengan alasan ada urusan lain.

Situasi semakin tidak pasti ketika sejumlah vendor dekorasi dan katering mengaku tidak mendapatkan arahan kerja. Beberapa di antaranya bahkan memutuskan meninggalkan lokasi karena tidak ada kepastian dari pihak WO.

“Kami akhirnya yakin acara resepsi kemungkinan besar tidak akan berjalan,” tutur Aldi.

Merasa dirugikan, Aldi dan Feny kemudian melaporkan dugaan penipuan ini ke Polres Metro Jakarta Timur pada Minggu (24/5) malam. Mereka membawa sejumlah barang bukti seperti percakapan digital, bukti transfer, hingga surat pernyataan dari pihak WO. Total kerugian yang dialami mencapai Rp 85,5 juta.

“Awalnya, saya dapat info dari Instagram. Setelah lihat daftar harga (price list) dan paket-paketnya, saya bayar DP dulu. Total kerugian Rp 85,5 juta,” kata Feny.

Sementara itu, pihak kepolisian sebelumnya telah meminta agar korban segera membuat laporan resmi terkait dugaan penipuan tersebut. Polisi juga menyatakan siap menerima laporan dari semua pihak yang merasa dirugikan.