ESSENSI.ID – Upaya Kabupaten Bekasi untuk mempertahankan tradisi juara umum pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026 terancam tidak berjalan mulus. Predikat sebagai juara bertahan kini dibayangi minimnya dukungan anggaran dari pemerintah daerah.

Terbatasnya dukungan anggaran dinilai dapat berdampak pada persiapan tim menghadapi ajang olahraga multi event empat tahunan tersebut. Padahal, kontingen Kabupaten Bekasi menargetkan gelar juara umum untuk ketiga kalinya pada penyelenggaraan Porprov tahun ini.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, anggaran yang disetujui Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk persiapan Porprov 2026 hanya sekitar Rp5 miliar. Nilai tersebut turun drastis dibandingkan anggaran pada Porprov 2022 di Ciamis.

Besaran anggaran itu dianggap belum memadai untuk menunjang kebutuhan atlet, mulai dari honor, perlengkapan hingga biaya operasional selama persiapan.

Sebagai gambaran, pada Porprov 2022 lalu Kabupaten Bekasi mengirimkan sedikitnya 1.337 kontingen yang terdiri atas 1.119 atlet serta pelatih, ofisial, dan manajer. Jumlah tersebut menjadi kontingen terbesar kedua setelah Kota Bandung yang mengirimkan 1.545 kontingen.

Dari ajang tersebut, Kabupaten Bekasi sukses meraih total 451 medali, terdiri atas 189 emas, 139 perak, dan 123 perunggu. Raihan itu unggul jauh dari Kabupaten Bogor sebagai pesaing terdekat sekaligus juara sebelumnya yang memperoleh 392 medali dengan rincian 139 emas, 130 perak, dan 123 perunggu.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, membenarkan dukungan anggaran untuk Porprov 2026 mengalami penurunan dibanding edisi sebelumnya. Menurut dia, kondisi itu dipengaruhi kebijakan efisiensi serta pemangkasan dana transfer daerah dari pemerintah pusat.

Asep menyampaikan bahwa KONI Kabupaten Bekasi telah mengajukan tambahan anggaran. Namun hingga kini, dirinya belum dapat memastikan nominal tambahan yang akan diberikan.

“Jadi begini, ya kesiapannya memang kita terbentur dengan anggaran. Anggaran kemarin KONI itu kan cuma 5 miliar rupiah. Nah sekarang, minta pengajuan ke saya untuk penambahan anggaran. Nah penambahan anggaran dari mana? Itu kan permasalahannya,” ucap dia.

Menurut Asep, pemerintah daerah tidak bisa sembarangan mengalihkan anggaran dari sektor lain. Karena itu, dirinya telah meminta Sekretaris Daerah Endin Samsudin melakukan perhitungan ulang terhadap anggaran di masing-masing dinas yang diperkirakan tidak terserap maksimal.

“Ya, jadi saya tidak mau ngambil yang dari mana-mana. Saya yakin lah, semua dinas itu anggarannya, tidak semuanya habis. Pasti ada yang tidak terserap. Pasti, itu yang kami ambil. Kemarin saya sudah bicara dengan Kadisbudpora, dengan dewan juga. Kami minta waktu untuk mengakomodir hal tersebut,” ucap dia.

Ia juga mengakui, keterbatasan anggaran membuat sejumlah atlet mulai dilirik daerah lain untuk pindah membela kontingen berbeda. Meski demikian, dirinya belum bisa memastikan jumlah tambahan anggaran yang nantinya tersedia.

“Antisipasinya ya, pasti harus ada anggaran. Sekarang kan kita tahu kan, anggarannya tidak ada, atletnya belum dibayar, belum digaji, lalu dipinta oleh daerah lain, jadi atlet daerah lain. Namun harus disesuaikan dengan fiskal kita nanti,” kata dia.

Asep menambahkan, kondisi anggaran saat ini memungkinkan Kabupaten Bekasi hanya akan memberangkatkan atlet yang berpotensi besar meraih medali.

“Yang penting yang kelihatan-kelihatan juara aja lah (yang diberangkatkan). Tapi nanti anggarannya berapa harus dilihat dulu. Masih ada waktu, kemungkinan di APBD perubahan nanti,” tandasnya.