ESSENSI.ID – Warga Desa Pasirranji, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi sudah bertahun-tahun menghadapi krisis air bersih. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air layak pakai, bahkan pengeboran sumur hingga kedalaman 150 meter belum mampu menghasilkan air yang jernih karena air yang keluar masih keruh dan berminyak.

Salah satu warga, Atang (45), mengatakan persoalan air bersih terjadi hampir sepanjang tahun. Saat musim hujan pun, kebutuhan air bersih tetap sulit terpenuhi sehingga warga terpaksa membeli air dari luar daerah untuk kebutuhan sehari-hari.

“Setiap minggu bisa habis Rp160 ribu buat beli air. Itu belum termasuk galon kalau darurat. Kalau dihitung-hitung, sebulan bisa sampai sejuta rupiah cuma buat air,” ujar Atang, Selasa (12/5).

Menurut Atang, kondisi tanah di wilayah Pasirranji yang kering menjadi salah satu penyebab sulitnya mendapatkan sumber air tanah. Keadaan diperparah dengan pesatnya perkembangan kawasan industri di sekitar wilayah tersebut, sementara distribusi air dari PDAM belum menjangkau seluruh warga.

“Kadang pasokan air juga enggak jelas. Ada atau enggaknya susah dipastikan. Warga sampai harus keliling bawa jerigen cari air,” katanya.

Belakangan ini, sebagian masyarakat mulai merasakan bantuan setelah adanya pemasangan jaringan air bersih melalui program dari pihak swasta. Atang menyebut keberadaan jaringan perpipaan tersebut cukup membantu kebutuhan warga.

“Alhamdulillah sekarang sudah ngocor sampai rumah. Enggak perlu lagi beli jerigen atau pesan air tangki yang kadang datangnya dua hari kemudian,” ucap dia.

Ia menilai biaya kebutuhan air kini lebih ringan dibanding sebelumnya.

“Sekarang paling Rp300 ribu sampai Rp400 ribu sebulan untuk dua rumah. Jadi lebih enak, enggak harus angkut-angkut air lagi,” katanya.

Kepala Desa Pasirranji, Wardi Sunandar, membenarkan bahwa akses air bersih di wilayahnya masih belum merata. Menurut dia, masih ada warga yang mengalami keterbatasan baik dari segi jumlah pasokan maupun kualitas air.

Wardi menjelaskan, air tanah yang berasal dari sumur warga umumnya belum memenuhi standar penggunaan karena berwarna kekuningan, berminyak, dan memiliki rasa pahit.

“Airnya ada, tapi kualitasnya kurang baik sehingga tidak bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan sumur bor sampai 135 sampai 150 meter juga hasilnya belum optimal,” ujarnya.

Ia mengatakan keterbatasan sumber air tanah membuat masyarakat sangat bergantung pada pasokan air dari luar wilayah serta jaringan perpipaan yang tersedia.

“Kalau pesan air juga enggak langsung datang. Untung sekarang ada bantuan pemasangan jaringan ini. Warga sangat terbantu dan harapannya bisa meluas ke wilayah lainnya,” kata dia. (Red)