ESSENSI.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali mencatat sebanyak 11 wilayah kecamatan masuk dalam kategori rawan kekeringan.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, BPBD Boyolali telah menyiapkan cadangan air bersih sebanyak 1,25 juta liter untuk kebutuhan masyarakat.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan kesiapan tersebut dilakukan sebagai bentuk respons terhadap potensi meningkatnya kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.

“Kami menyiapkan sekitar 1,25 juta liter untuk antisipasi itu. Untuk masyarakat membutuhkan dropping air. Pada prinsipnya kami selalu siap untuk melakukan penanganan bencana kekeringan karena sudah rutin setiap tahun,” ungkap Ari Wahyu Prabowo di Boyolali, Senin (6/7/2026).

Adapun 11 kecamatan yang dipetakan rawan mengalami kekeringan yakni Kemusu, Wonosegoro, Juwangi, Wonosamudro, Andong, Tamansari, Musuk, Selo, Cepogo, Gladaksari, dan Ampel. Wilayah tersebut mayoritas berada di kawasan utara dan barat Kabupaten Boyolali.

Meski demikian, Ari menjelaskan tingkat kekeringan yang terjadi setiap tahun tidak selalu berada pada kondisi yang sama. Faktor musim, intensitas curah hujan, serta ketersediaan sumber air di setiap wilayah menjadi penentu tingkat kekeringan yang terjadi.

“BPBD terus melakukan pemantauan bersama pemerintah kecamatan, desa, BMKG, dan instansi teknis terkait,” imbuh Ari.

Selain mengantisipasi kekeringan, BPBD Boyolali juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Ilustrasi – Kekeringan. ANTARA/Raisan Al Farisi/dok

Menurut Ari, terdapat delapan kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan karhutla, yaitu Juwangi, Kemusu, Wonosegoro, Wonosamodro, Gladaksari, Selo, Musuk, dan Tamansari.

“Ada delapan kecamatan di Boyolali rawan karhutla. Di antaranya Juwangi, Kemusu, Wonosegoro, Wonosamodro, Gladaksari, Selo, Musuk dan Tamansari,” ujar Ari.

BPBD Boyolali mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak serta segera melaporkan apabila terjadi kondisi darurat terkait kekeringan maupun kebakaran lahan.