Di Balik Derap Rotan Ujungan, Tersimpan Sejarah Panjang Masyarakat Bekasi
ESSENSI.ID – Di balik pesatnya pembangunan kawasan industri dan permukiman modern, Kabupaten Bekasi menyimpan warisan budaya yang telah hidup jauh sebelum daerah ini dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Salah satunya adalah Seni Ujungan, sebuah kesenian tradisional yang memadukan unsur bela diri, tari, musik, dan nilai persaudaraan dalam kehidupan masyarakat.
Bagi masyarakat Bekasi tempo dulu, Ujungan bukan sekadar pertunjukan adu ketangkasan. Kesenian ini menjadi bagian dari tradisi pesta panen, ruang berkumpulnya warga, sekaligus simbol persahabatan antarkampung.
Di arena Ujungan, para jawara saling menguji kemampuan bukan untuk mencari musuh, melainkan mempererat tali silaturahmi setelah musim panen usai.
Dalam pertunjukannya, Ujungan menggabungkan tiga unsur seni sekaligus, yakni musik Sampyong, tari Uncul, dan permainan bela diri menggunakan tongkat rotan.
Sebelum pertandingan dimulai, para pemain terlebih dahulu menampilkan Tari Uncul sebagai pembuka, kemudian dilanjutkan dengan atraksi ketangkasan yang mengikuti aturan tertentu sehingga tidak sekadar menjadi pertarungan bebas.
Perpaduan tersebut menjadikan Ujungan sebagai salah satu kesenian tradisional yang unik di Kabupaten Bekasi.
Secara etimologis, istilah Ujungan diyakini berasal dari kata jung dalam bahasa Sunda yang merujuk pada bagian kaki dari lutut hingga telapak kaki.
Seiring perkembangan bahasa masyarakat Bekasi, istilah tersebut kemudian dikaitkan dengan kata ujung, baik ujung rotan yang digunakan dalam permainan maupun ujung kaki yang menjadi sasaran pukulan dalam pertunjukan.
Sejumlah penelitian sejarah menyebutkan bahwa Ujungan telah berkembang sejak masyarakat Bekasi masih didominasi kehidupan agraris.
Selain menjadi hiburan rakyat, kesenian ini juga menjadi media melatih keberanian, ketangkasan, sportivitas, serta memperkuat solidaritas antarwarga.
Nilai-nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui para maestro dan kelompok seni tradisi di berbagai kampung.
Namun, perubahan zaman membuat eksistensi Ujungan sempat mengalami kemunduran. Urbanisasi, berkurangnya ruang pertunjukan, hingga minimnya regenerasi menyebabkan kesenian ini semakin jarang dipentaskan. Banyak generasi muda Bekasi bahkan tidak lagi mengenal salah satu warisan budaya daerahnya sendiri.
Upaya pelestarian kemudian dilakukan oleh para budayawan, komunitas seni, akademisi, hingga Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui pendataan, penelitian, dokumentasi, serta pementasan kembali Ujungan dalam berbagai kegiatan kebudayaan.
Kerja panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Seni Ujungan Bekasi resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia oleh Direktorat Warisan Budaya, Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan pada 2026.
Penetapan ini menjadi pengakuan bahwa Ujungan merupakan bagian dari identitas budaya bangsa yang harus terus dilestarikan.
Pengakuan tersebut membuka peluang lebih besar bagi pengembangan Ujungan sebagai aset budaya daerah.
Selain memperoleh perlindungan negara, kesenian ini juga semakin sering ditampilkan dalam festival budaya tingkat nasional sebagai upaya memperkenalkan kekayaan tradisi Bekasi kepada masyarakat luas.
Lebih dari sekadar seni pertunjukan, Ujungan merupakan cermin perjalanan sejarah masyarakat Bekasi.
Di dalam setiap gerak tari, irama musik, dan permainan rotan, tersimpan nilai keberanian, sportivitas, gotong royong, serta penghormatan terhadap persaudaraan.
Nilai-nilai itulah yang menjadikan Ujungan tetap relevan sebagai warisan budaya yang layak dikenalkan kepada generasi masa kini dan masa depan. (***)

