Saat Ambisi Gajah Mada Berujung Tragedi, Kisah Kelam Perang Bubat
ESSENSI.ID – Perang Bubat menjadi salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Nusantara. Konflik yang terjadi pada abad ke-14 itu bukan hanya menelan banyak korban jiwa, tetapi juga mengakhiri hubungan baik yang selama bertahun-tahun terjalin antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.
Sebelum tragedi itu terjadi, kedua kerajaan besar tersebut memiliki hubungan yang cukup erat, bahkan diikat melalui hubungan keluarga. Sejumlah naskah sejarah menyebut bahwa pendiri Majapahit, Raden Wijaya, memiliki garis keturunan dari Kerajaan Sunda.
Berdasarkan Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara Parwa II Sarga 3, Prabu Sanghyang Wisnu, Raja Sunda, memiliki putra mahkota bernama Rakryan Jayadarma yang berkedudukan di Pakuan.
Jayadarma kemudian menikah dengan Dyah Lembu Tal, putri Mahisa Campaka dari Jawa Timur. Pernikahan tersebut menjadi simbol hubungan harmonis antara dua wilayah yang kelak berkembang menjadi dua kerajaan besar di Nusantara.
Dari pernikahan itu lahirlah Nararya Sanggramawijaya atau yang lebih dikenal sebagai Raden Wijaya.
Namun, usia Jayadarma tidak panjang. Setelah sang suami wafat, Dyah Lembu Tal kembali ke Jawa Timur sambil membawa putranya. Kelak, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan menjadi raja pertamanya.
Sementara itu, Kerajaan Sunda tetap berkembang sebagai kerajaan yang berdiri sendiri di wilayah barat Pulau Jawa.
Pernikahan Politik yang Berubah Menjadi Tragedi
Hubungan kedua kerajaan kembali menemukan momentum ketika Raja Majapahit Hayam Wuruk berkeinginan mempersunting putri Kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Prabu Maharaja Linggabuanawisesa.
Rencana pernikahan tersebut pada awalnya dipandang sebagai langkah diplomatik untuk mempererat hubungan antara dua kerajaan besar.
Namun situasi berubah ketika Mahapatih Gajah Mada memaknai kedatangan rombongan Kerajaan Sunda ke Majapahit sebagai bentuk penyerahan diri kepada kekuasaan Majapahit.
Sebagai penggagas Sumpah Palapa, Gajah Mada memiliki ambisi menyatukan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
Karena itu, ia menuntut agar Dyah Pitaloka tidak diserahkan sebagai calon permaisuri Hayam Wuruk, melainkan sebagai simbol ketundukan Kerajaan Sunda kepada Majapahit.
Kerajaan Sunda Menolak Tunduk
Tuntutan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Prabu Maharaja Linggabuanawisesa.
Bagi pihak Sunda, pernikahan itu merupakan hubungan antarkerajaan yang setara, bukan bentuk penaklukan politik.
Penolakan tersebut memicu ketegangan yang kemudian berkembang menjadi pertempuran di Lapangan Bubat.
Meski kalah jumlah, rombongan Kerajaan Sunda memilih bertempur hingga titik darah penghabisan demi mempertahankan kehormatan kerajaan.
Dalam pertempuran itu, Prabu Maharaja Linggabuanawisesa beserta para pengawalnya gugur.
Sementara itu, Dyah Pitaloka Citraresmi memilih mengakhiri hidupnya sebagai bentuk mempertahankan martabat kerajaan daripada menjadi simbol penaklukan.
Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Perang Bubat, salah satu tragedi paling dikenang dalam sejarah Nusantara.
Dampak Besar bagi Majapahit
Meskipun Majapahit tetap berdiri sebagai kerajaan besar, Perang Bubat meninggalkan luka politik yang mendalam.
Hubungan antara Majapahit dan Kerajaan Sunda memburuk selama bertahun-tahun.
Di sisi lain, ambisi politik Gajah Mada mulai mendapat sorotan.
Sejumlah sumber sejarah menyebut Hayam Wuruk tidak secara langsung menjatuhkan hukuman kepada Mahapatih Gajah Mada. Namun, pengaruh dan perannya dalam pemerintahan perlahan mulai berkurang setelah tragedi tersebut.
Peristiwa Bubat juga dinilai menjadi salah satu kegagalan terbesar dalam pelaksanaan Sumpah Palapa, sebab Kerajaan Sunda tidak pernah benar-benar tunduk kepada Majapahit.
Menjadi Pelajaran Sejarah
Hingga kini, Perang Bubat masih menjadi salah satu peristiwa sejarah yang banyak dikaji oleh para sejarawan.
Tragedi tersebut tidak hanya mencerminkan besarnya ambisi politik pada masa kerajaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana kesalahpahaman diplomasi dapat berujung pada konflik berdarah.
Di balik kejayaan Majapahit sebagai kerajaan terbesar di Nusantara, Perang Bubat menjadi pengingat bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan dapat meninggalkan luka sejarah yang panjang.
Catatan Redaksi: Kisah Perang Bubat memiliki beragam versi yang bersumber dari naskah seperti Pararaton, Kidung Sunda, Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara, dan Babad Tanah Jawa.
Sejumlah detail mengenai silsilah tokoh maupun kronologi peristiwa masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Artikel ini disusun berdasarkan narasi yang berkembang dalam sumber-sumber tersebut dan tidak dimaksudkan sebagai penetapan satu versi sejarah yang bersifat final.

