ESSENSI.ID – Di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri Cikarang, Stasiun Lemah Abang tetap berdiri sebagai salah satu simpul transportasi yang memiliki jejak sejarah panjang.

Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari pembangunan jalur kereta api Batavia-Karawang pada akhir abad ke-19, yang menjadi bagian penting dalam perkembangan perkeretaapian di Hindia Belanda.

Awal Pembangunan Jalur Kereta Api

Sejarah Stasiun Lemah Abang bermula dari pembangunan jalur kereta api lintas timur Batavia menuju Karawang.

Jalur ini awalnya dibangun oleh perusahaan swasta Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) yang memperoleh konsesi untuk membangun lintasan dari Batavia ke Karawang.

Pada 31 Maret 1887, segmen Batavia-Bekasi mulai dioperasikan. Namun, karena mengalami kesulitan keuangan, BOS tidak mampu menyelesaikan seluruh proyek.

Pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS) kemudian mengambil alih jalur tersebut pada 1898, sekaligus melanjutkan pembangunan hingga Karawang dan kemudian Cikampek.

Dalam proses pengembangan itulah Stasiun Lemah Abang dibangun sebagai salah satu stasiun antara Bekasi dan Karawang untuk melayani angkutan penumpang maupun distribusi hasil pertanian.

Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Kolonial

Pada masa kolonial, jalur Batavia-Karawang dibangun bukan semata untuk transportasi penumpang, melainkan juga guna mempercepat distribusi komoditas pertanian dan perkebunan menuju Pelabuhan Batavia.

Sejumlah penelitian sejarah menyebut pembangunan jalur tersebut didorong oleh dua kepentingan utama, yakni ekonomi dan pertahanan.

Kehadiran stasiun-stasiun di sepanjang lintasan, termasuk Lemah Abang, mempercepat pengangkutan hasil bumi dari wilayah Bekasi dan Karawang menuju pusat perdagangan di Batavia.

Asal-usul Nama Lemah Abang

Nama Lemah Abang berasal dari bahasa Sunda, yakni lemah yang berarti tanah dan abang yang berarti merah. Nama tersebut merujuk pada kondisi tanah di kawasan itu yang berwarna kemerahan.

Dalam perkembangan administrasi wilayah, nama Lemah Abang telah lama dikenal sebagai kawasan di wilayah Cikarang sebelum kemudian berkembang menjadi beberapa kecamatan seperti saat ini.

Dari Kawasan Pertanian Menjadi Kawasan Industri

Setelah Indonesia merdeka, Stasiun Lemah Abang tetap berfungsi sebagai stasiun penghubung di lintas Jakarta-Cikampek.

Perubahan terbesar terjadi sejak dekade 1980-an ketika Cikarang berkembang menjadi salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia.

Arus penumpang meningkat tajam karena ribuan pekerja memanfaatkan kereta api sebagai moda transportasi harian menuju Jakarta, Bekasi, Karawang, maupun Purwakarta.

Era KRL Commuter Line

Peran Stasiun Lemah Abang semakin strategis setelah layanan KRL Commuter Line diperpanjang hingga Cikarang pada 8 Oktober 2017. Sejak saat itu, masyarakat Kabupaten Bekasi memperoleh akses transportasi massal yang lebih cepat dan terjangkau menuju Jakarta.

Untuk mendukung peningkatan jumlah penumpang, stasiun ini juga mengalami berbagai pembenahan, mulai dari peninggian peron, pemasangan gerbang elektronik (electronic gate), hingga peningkatan fasilitas pelayanan penumpang.

Warisan Sejarah yang Masih Bertahan

Meski bangunannya telah mengalami berbagai renovasi mengikuti kebutuhan operasional modern, Stasiun Lemah Abang tetap menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan jalur kereta api lintas timur Jawa.

Sebagai salah satu stasiun yang lahir dari ekspansi jaringan kereta api Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, Stasiun Lemah Abang bukan hanya menjadi penghubung mobilitas masyarakat, tetapi juga saksi perubahan Cikarang dari kawasan agraris menjadi pusat industri nasional.

Artikel ini disusun berdasarkan penelitian akademik yang menggunakan arsip kolonial, dokumen Staatsspoorwegen, serta referensi resmi sejarah perkeretaapian Indonesia. (**)