Sejarah Cikarang: Dari Tanah Kerajaan hingga Menjadi Pusat Industri Terbesar di Indonesia
ESSENSI.ID – Cikarang selama ini dikenal sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi sekaligus kawasan industri terbesar di Indonesia. Ribuan perusahaan nasional dan multinasional beroperasi di wilayah ini, menjadikan Cikarang sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.
Namun jauh sebelum menjelma menjadi kota industri modern, Cikarang memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan kerajaan-kerajaan Nusantara, masa kolonial Hindia Belanda, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Asal-usul Nama Cikarang
Nama Cikarang diyakini berasal dari bahasa Sunda. Kata “ci” atau “cai” berarti air atau sungai, sedangkan “karang” merujuk pada daratan berbatu atau lokasi asal mata air.
Sejumlah sumber menyebut penamaan tersebut berkaitan dengan Sungai Cikarang yang berhulu di kawasan Bukit Karang, Jonggol, Kabupaten Bogor.
Secara geografis, wilayah Cikarang memang dilintasi banyak sungai, seperti Sungai Cikarang, Cibeet, Cikedokan, Cipamingkis, Ciherang, dan sejumlah anak sungai lainnya yang sejak dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Bagian dari Wilayah Kerajaan Tarumanagara
Sejarah Cikarang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Bekasi. Sejumlah catatan sejarah menyebut wilayah Bekasi, termasuk kawasan yang kini menjadi Cikarang, pernah berada dalam pengaruh Kerajaan Tarumanagara, salah satu kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang berkembang pada abad ke-4 hingga ke-7 Masehi.
Pemerintah Kota Bekasi menjelaskan bahwa kawasan Bekasi kuno dikenal dengan nama Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Tarumanagara. Wilayah tersebut kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya Kerajaan Sunda di bawah Maharaja Tarusbawa.
Selain itu, ditemukannya Prasasti Kebantenan di wilayah Bekasi menjadi bukti bahwa kawasan ini memiliki posisi penting dalam perkembangan Kerajaan Sunda pada masa berikutnya.
Berkembang sebagai Wilayah Agraris
Setelah masa Tarumanagara, kawasan Bekasi berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda hingga era Pajajaran.
Wilayah yang kini menjadi Cikarang berkembang sebagai daerah pertanian karena didukung tanah aluvial yang subur dan jaringan sungai yang melimpah.
Padi menjadi komoditas utama masyarakat, disertai perkebunan dan perikanan air tawar.
Posisi geografisnya yang berada di jalur antara pesisir utara Jawa dan wilayah pedalaman juga menjadikan Cikarang sebagai kawasan strategis bagi aktivitas perdagangan.
Masa Kolonial Belanda
Memasuki masa Hindia Belanda, Cikarang berkembang sebagai wilayah perkebunan dan pertanian. Pemerintah kolonial membangun berbagai infrastruktur seperti jalan raya, jalur kereta api, hingga sistem irigasi untuk menunjang distribusi hasil bumi menuju Batavia.
Pada masa administrasi kolonial, wilayah Cikarang masuk dalam Regenschap Meester Cornelis. Setelah pendudukan Jepang, struktur pemerintahan berubah dan Cikarang menjadi salah satu pusat kewedanan di wilayah Bekasi.
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Cikarang menjadi salah satu daerah yang aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Laskar rakyat bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Sekutu dan Belanda yang berupaya kembali menguasai wilayah Bekasi.
Karena letaknya yang strategis di jalur Jakarta–Karawang, kawasan Cikarang beberapa kali menjadi lokasi pertempuran pada masa revolusi fisik.
Menjadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Bekasi
Perkembangan Cikarang semakin pesat ketika pemerintah memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi dari Kota Bekasi ke Cikarang.
Pemindahan tersebut dilakukan setelah terbentuknya Kota Bekasi sebagai daerah otonom dan diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 1998, sementara peresmian kawasan ibu kota kabupaten dilakukan pada 6 Juni 2004.
Sejak saat itu, berbagai kantor pemerintahan Kabupaten Bekasi dibangun di kawasan Cikarang Pusat.
Menjelma Menjadi Kota Industri
Transformasi terbesar Cikarang dimulai pada akhir 1980-an ketika pemerintah menetapkan wilayah tersebut sebagai kawasan industri nasional.
Berbagai kawasan industri bertaraf internasional kemudian dibangun, antara lain, Jababeka Industrial Estate, MM2100 Industrial Town, East Jakarta Industrial Park (EJIP), Greenland International Industrial Center (GIIC), Delta Silicon, dan Kota Deltamas.
Saat ini, ribuan perusahaan dari Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Eropa, hingga Amerika Serikat beroperasi di kawasan tersebut. Industri otomotif, elektronik, farmasi, logistik, makanan dan minuman menjadi sektor yang mendominasi.
Perkembangan ini menjadikan Cikarang sebagai salah satu pusat manufaktur terbesar di Asia Tenggara sekaligus penyerap jutaan tenaga kerja dari berbagai daerah di Indonesia.
Cikarang Masa Kini
Kini, Cikarang tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga berkembang menjadi pusat pendidikan, perdagangan, kesehatan, dan kawasan hunian modern.
Keberadaan Jalan Tol Jakarta – Cikampek, Kereta Cepat Jakarta – Bandung, jaringan KRL Commuter Line hingga proyek transportasi lainnya semakin memperkuat posisi Cikarang sebagai salah satu kawasan strategis nasional.
Di balik pesatnya pembangunan tersebut, Cikarang tetap menyimpan jejak sejarah panjang yang dimulai sejak era kerajaan-kerajaan Nusantara hingga menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terpenting di Indonesia.
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan sumber resmi Pemerintah Kota Bekasi, yakni Sejarah Kota Bekasi, Profil Data Sektoral Kota Bekasi 2022, dan Profil Data Sektoral Kota Bekasi 2023, serta dilengkapi dengan berbagai referensi sejarah yang relevan.
Mengingat terdapat beragam interpretasi dalam historiografi, informasi disajikan berdasarkan sumber yang dinilai kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

