ESSENSI.ID – Pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bekasi terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga kini, progres pembangunan fasilitas pendidikan gratis berbasis asrama atau boarding school tersebut telah mencapai 65,2 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada 20 Juni 2026.

Proyek pendidikan terpadu senilai Rp220 miliar itu menjadi salah satu program prioritas pemerintah untuk menekan angka putus sekolah, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, mengatakan capaian pembangunan tersebut merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam menjalankan program unggulan Presiden.

“Ini adalah keseriusan Presiden, tentunya saya sebagai KSP ini adalah melaksanakan pengawasan dan pengendalian secara langsung program prioritas unggulan Bapak Presiden. Salah satunya adalah sekolah rakyat. Dan capaian saat ini sudah 65,2%,” kata Dudung usai meninjau langsung Sekolah Rakyat di Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, Senin (18/5).

Menurut Dudung, progres pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bekasi sejalan dengan target pembangunan nasional. Saat ini, pemerintah telah membangun 93 Sekolah Rakyat dari nol di berbagai daerah.

Ia juga menilai kualitas bangunan dan fasilitas yang disiapkan cukup baik, mulai dari sarana olahraga hingga area bermain. Seluruh kebutuhan siswa nantinya akan ditanggung pemerintah secara gratis, termasuk pakaian, sepatu, makanan, hingga makanan ringan.

“Kemudian sarana dan prasarananya juga lengkap baik sarana olahraga, sarana bermain. Dan ini sekolah ini nanti gratis baik pakaian maupun sepatu, makan termasuk snack ya. Dan ini menurut saya luar biasa pembangunan Rp 200 sekian miliar pembangunan dan ini dikontrol betul sehingga banyak hal-hal yang harus kita kendalikan,” tambahnya.

Sekolah Rakyat Kabupaten Bekasi nantinya dirancang menampung sebanyak 1.080 siswa dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Seluruh peserta didik diprioritaskan bagi warga Kabupaten Bekasi, terutama anak-anak dari keluarga rentan dan yang mengalami putus sekolah.

“Rencana siswanya ada 1080 yang terdiri dari iSD, SMP, SMA. Nah yang SD ini masih ada kendala karena ibunya kan belum mau ngasih anaknya di boarding sini,” terang Dudung.

Sementara itu, Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, menyebut Sekolah Rakyat dibangun di atas lahan seluas 5,4 hektare dengan kuota 1.080 siswa.

Saat ini, hasil verifikasi sementara menunjukkan terdapat 10 pendaftar tingkat SD, 71 pendaftar SMP, dan 80 pendaftar SMA.

“Yang SD kenapa sedikit, karena orang tuanya belum benar-benar mau melepas. Tapi sekolah ini kan bukan hanya untuk pemula, ada juga yang putus sekolah. Ada usianya 13 tahun masuk ke SD, ada. Karena mereka putus sekolah, mau untuk melanjutkan,” terang Asep.

Pemerintah daerah bersama Dinas Sosial dan Kementerian Sosial kini tengah melakukan proses verifikasi calon siswa berdasarkan kategori desil ekonomi agar program tepat sasaran.

“Jadi syaratnya ada desil 1, desil 2. Nanti itu dia sosial bekerja. Mana aja yang masuk desil 1, desil 2, ya itu ditawarkan. Kita lihat yang putus sekolah. Nanti anak-anak jalanan yang mau putus sekolah. Langsung kita tarik untuk sekolah karena pembentukan karakter,” pungkas Asep.