Rupiah Bisa Jebol Rp19.000 per Dolar AS, Pengamat Ungkap Penyebabnya
ESSENSI.ID – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Bahkan, sejumlah analis memprediksi mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) apabila tekanan global dan kebijakan moneter AS bergerak sesuai ekspektasi pasar.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dipicu perkembangan situasi global yang semakin tidak menentu. Menurutnya, ada dua faktor utama yang dapat mendorong rupiah menyentuh level terlemah baru pada akhir Juni 2026.
Faktor pertama adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang terus berlangsung di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global dan memicu perpindahan dana investor ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Faktor kedua adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Pelaku pasar masih meyakini The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
“Kalau gejolak geopolitik di Timur Tengah masih terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, padai akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99% akan Rp 19.000 per dolar AS,” kata Ibrahim, Minggu (7/6/2026).
Pada perdagangan akhir pekan, rupiah memang mencatat penguatan tipis sekitar 13 poin. Namun posisi mata uang Indonesia tersebut masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yakni sekitar Rp18.036 per dolar AS.
Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman
Ibrahim menjelaskan bahwa ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang paling dicermati pelaku pasar. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya pasokan minyak mentah.
Gangguan terhadap rantai pasok energi diperkirakan dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut pada akhirnya akan meningkatkan biaya transportasi dan logistik, serta memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
Ketika inflasi meningkat, bank-bank sentral dunia cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi inilah yang kemudian memperkuat posisi dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
The Fed dan Arus Modal Asing
Selain faktor geopolitik, pasar juga masih menaruh perhatian besar pada arah kebijakan The Fed. Tingkat suku bunga yang tinggi di Amerika Serikat membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor global.
Akibatnya, sebagian dana asing berpotensi keluar dari pasar negara berkembang dan kembali mengalir ke Amerika Serikat. Fenomena tersebut dapat mengurangi pasokan valuta asing di pasar domestik dan memperlemah nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, kebutuhan dolar AS di dalam negeri juga masih tinggi. Permintaan valuta asing berasal dari kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, hingga aktivitas korporasi yang membutuhkan dolar untuk berbagai transaksi internasional.
BI Siapkan Langkah Stabilisasi
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya dengan meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar kembali menarik minat investor asing.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan sinergi kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat guna mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan nasional.
“Fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Selain itu, BI juga berupaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui koordinasi yang lebih erat dengan pemerintah. Langkah tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas nilai tukar dan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

