ESSENSI.ID – Pembahasan mengenai keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah muncul informasi di media sosial yang menyebut program tersebut akan dihentikan sementara mulai 5 Juni 2026 karena kendala pendanaan operasional.

Namun, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan bukan berasal dari pengumuman resmi lembaga.

Di tengah perdebatan tersebut, sejumlah ekonom mulai menyoroti dampak fiskal dan ekonomi dari pelaksanaan MBG yang membutuhkan alokasi anggaran besar. Perhatian itu mencakup pengaruh program terhadap persepsi investor, pergerakan pasar modal, hingga stabilitas nilai tukar rupiah.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kepentingan evaluasi menyeluruh justru berpotensi memberikan manfaat bagi stabilitas ekonomi nasional, dikutip dari Listrik Indonesia. Minggu (7/6/2026).

Menurut Bhima, evaluasi perlu dilakukan mengingat besarnya kebutuhan anggaran program serta dampaknya terhadap kondisi fiskal negara. Ia menilai langkah tersebut dapat memberikan sinyal positif kepada pelaku pasar, baik di sektor saham maupun valuta asing.

“Kalau MBG dihentikan sementara dan dilakukan evaluasi menyeluruh, menurut saya justru akan berdampak positif bagi perekonomian,” ujar Bhima.

Ia menjelaskan, apabila program terus berjalan dengan cakupan yang semakin luas, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi meningkat. Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor dalam menilai prospek ekonomi Indonesia.

“Karena kalau anggaran MBG terus dipertahankan dalam jumlah besar tanpa moratorium, sementara jumlah dapurnya juga semakin banyak, maka efeknya justru akan kontraktif terhadap perekonomian Indonesia. Dampaknya juga akan terasa terhadap tingkat kepercayaan pelaku pasar, baik di pasar saham maupun terhadap rupiah,” katanya.

Kepercayaan Investor Menjadi Perhatian

Bhima menuturkan bahwa pelaku pasar tidak hanya mempertimbangkan sentimen jangka pendek, tetapi juga memperhatikan kesehatan fiskal pemerintah dalam jangka menengah dan panjang. Salah satu indikator yang diamati adalah perkembangan defisit APBN serta kebutuhan pembiayaan utang negara.

“Ini bukan hanya soal sentimen pasar. Pelaku pasar juga mencermati pelebaran defisit APBN dan beban utang pemerintah yang terus meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, upaya pengendalian belanja negara dapat membantu memperkuat keyakinan investor terhadap perekonomian nasional. Jika kepercayaan pasar meningkat dan rupiah menguat, tekanan biaya impor juga berpotensi menurun sehingga tidak terlalu membebani harga barang di dalam negeri.

“Ketika rupiah kembali menguat, beban biaya impor tidak akan terlalu membebani harga-harga konsumen melalui inflasi,” kata Bhima.

Berpotensi Menekan Pasokan Pangan

Selain persoalan fiskal dan pasar keuangan, Bhima juga menyoroti kemungkinan dampak MBG terhadap rantai pasok pangan nasional. Menurutnya, program tersebut membutuhkan bahan pangan dalam jumlah besar yang mayoritas dipasok oleh petani dan distributor berskala besar.

“Program MBG membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar yang sebagian besar dibeli dari petani skala besar maupun distributor skala besar,” ujarnya.

Ia menilai peningkatan permintaan dalam volume besar berpotensi mengurangi ketersediaan pasokan di pasar umum. Jika kondisi itu terjadi, harga pangan di tingkat pedagang maupun konsumen berisiko mengalami kenaikan.

“Kondisi ini berpotensi mengurangi pasokan yang tersedia di pasar umum dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga di tingkat pedagang maupun konsumen. Dengan kata lain, risiko inflasi menjadi lebih tinggi,” katanya.

Karena itu, Bhima berpandangan evaluasi terhadap Program Makan Bergizi Gratis perlu dipertimbangkan agar pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara tujuan program sosial dan stabilitas ekonomi nasional.

“Karena itu, menurut saya, MBG perlu mengalah terlebih dahulu agar stabilitas harga tetap terjaga,” ujarnya.