ESSENSI.ID – Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham menyatakan pemerintah saat ini tengah melakukan berbagai langkah strategis untuk membenahi sektor energi nasional, khususnya di bidang perminyakan.

Menurutnya, upaya yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berpotensi membuka peluang penurunan harga Pertamax apabila berbagai faktor yang memengaruhi kenaikan harga dapat dikendalikan.

“Pak Bahlil mengambil berbagai kebijakan di bidang perminyakan, pengelolaan energi, hilirisasi, hingga menjamin ketersediaan gas. Termasuk melakukan lobi-lobi melalui berbagai kunjungan luar negeri. Jika faktor-faktor tersebut sudah bisa diatasi, harga pasti akan turun lagi,” ujar Idrus, di Kantor DPD Partai Golkar, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).

Idrus menilai penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan pemerintah memang bukan kebijakan yang mudah diterima publik. Namun, ia menyebut langkah tersebut merupakan pilihan yang paling rasional di tengah tekanan global yang turut memengaruhi kondisi sektor energi nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Idrus juga menanggapi kekhawatiran sejumlah pihak terkait arah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berpotensi menerapkan pendekatan represif. Berdasarkan pengalamannya bekerja bersama Prabowo sejak 2014, Idrus menegaskan bahwa Presiden terbuka terhadap kritik dan masukan yang disampaikan secara argumentatif.

“Saya menjadi saksi karena pernah memimpin koalisi bersama Pak Prabowo ketika beliau belum memiliki kekuasaan. Beliau tidak anti-kritik. Kalau ada persoalan, kita bisa mengkritik dan berdialog. Apa dasarnya, bagaimana konstruksinya, seperti apa narasinya, semua dibahas bersama. Ada diskusi dan perdebatan konsep,” kata Idrus.

Ia menambahkan, Prabowo memiliki visi untuk membangun masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan bangsa berdasarkan kesadaran bersama, bukan melalui tekanan atau paksaan.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa harga Pertamax dengan spesifikasi RON 92 di Indonesia masih berada di bawah harga bahan bakar sejenis yang dijual di sejumlah negara kawasan.

Menurut Teddy, harga BBM RON 92 di Filipina tercatat mencapai Rp22.158 per liter, Thailand Rp28.910 per liter, Myanmar Rp25.085 per liter, Laos Rp31.945 per liter, dan Singapura sekitar Rp42.971 per liter.

“Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia masih jauh lebih murah dibandingkan BBM RON 92 atau RON 95 di negara lain,” terang Teddy, di Jakarta, Minggu (14/6/2026).

Teddy menjelaskan bahwa Pertamax merupakan bahan bakar nonsubsidi sehingga penetapan harganya mengikuti perkembangan pasar minyak dunia. Ia menyebut harga minyak global telah mengalami kenaikan sejak Maret 2026, namun pemerintah masih menahan penyesuaian harga Pertamax selama beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dipasarkan dengan harga Rp10.000 per liter, sementara Solar subsidi tetap berada di angka Rp6.800 per liter.