Saat Rupiah Melemah Lagi, Publik Kembali Mengingat Cara BJ Habibie Menjinakkan Dolar
ESSENSI.ID – Setiap kali nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat, satu nama hampir selalu kembali diperbincangkan publik: BJ Habibie.
Ingatan kolektif masyarakat Indonesia terhadap Presiden ke-3 RI itu bukan hanya soal teknologi atau pesawat terbang. Habibie juga dikenang sebagai sosok yang pernah memimpin Indonesia di tengah salah satu badai ekonomi paling parah dalam sejarah modern bangsa ini.
Pada masa krisis moneter 1998, nilai rupiah sempat terpuruk hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS. Situasi saat itu bukan sekadar soal angka kurs. Kepercayaan publik runtuh, banyak bank kolaps, PHK terjadi di berbagai sektor, dan stabilitas politik berada di ujung tanduk.
Namun di tengah kekacauan tersebut, Habibie mengambil langkah yang kala itu dianggap berani. Ia fokus memulihkan fondasi ekonomi dan membangun kembali kepercayaan pasar. Salah satu langkah pentingnya adalah restrukturisasi perbankan nasional serta memperkuat independensi Bank Indonesia.
Habibie juga dikenal memiliki pendekatan unik dalam membaca ekonomi. Sebagai seorang insinyur penerbangan, ia mengibaratkan ekonomi seperti pesawat yang kehilangan daya angkat. Dalam kondisi “stall”, menurutnya, yang paling penting bukan memaksa pesawat terbang tinggi, melainkan menjaga agar tidak jatuh lebih dalam.
Pendekatan itulah yang kini kembali ramai dibahas ketika rupiah lagi-lagi bergerak mendekati level Rp17.000 per dolar AS pada 2026. Publik mulai membandingkan situasi sekarang dengan era krisis dua dekade lalu.
Meski demikian, konteks ekonomi saat ini tentu berbeda. Dunia kini menghadapi ketidakpastian geopolitik, perang dagang, suku bunga global tinggi, hingga perlambatan ekonomi internasional. Tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dinamika pasar global yang semakin kompleks.
Karena itu, pertanyaan apakah “keajaiban Habibie” bisa terulang sebenarnya bukan hanya soal sosok pemimpin. Yang lebih penting adalah apakah Indonesia hari ini mampu membangun kembali kepercayaan pasar, menjaga stabilitas fiskal, dan menghadirkan arah kebijakan ekonomi yang konsisten.
Di tengah tekanan ekonomi, publik memang cenderung mencari figur pembanding dari masa lalu. Habibie menjadi simbol bahwa krisis besar pernah berhasil dilalui Indonesia. Namun tantangan saat ini membutuhkan pendekatan baru yang relevan dengan zaman.
Sebab pada akhirnya, stabilitas ekonomi tidak lahir dari nostalgia semata, melainkan dari keberanian mengambil keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian.
Infografis


