ESSENSI.ID – Perjalanan PT Krakatau Osaka Steel menunjukkan dinamika dari optimisme awal hingga menghadapi tekanan yang terus berulang. Perusahaan patungan antara Krakatau Steel dan Osaka Steel ini sempat hadir dengan harapan besar untuk memperkuat industri baja nasional.

Didirikan pada 2014 dan mulai beroperasi secara komersial pada 2017, perusahaan ini fokus memproduksi baja konstruksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada fase awal, keberadaan perusahaan dipandang sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas industri baja Indonesia.

Namun, seiring waktu, tekanan mulai muncul dari berbagai sisi. Persaingan dengan produk baja impor yang lebih murah menjadi tantangan utama, membuat daya saing produk domestik semakin tertekan. Kondisi ini diperparah dengan melemahnya permintaan baja di dalam negeri, terutama akibat penyesuaian proyek infrastruktur.

Selain faktor eksternal, kondisi internal perusahaan juga mengalami tekanan. Kinerja keuangan mulai menunjukkan penurunan, dengan kerugian yang terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir. Upaya untuk mempertahankan operasional maupun mencari alternatif solusi, termasuk opsi penjualan bisnis, tidak membuahkan hasil.

Akumulasi tekanan tersebut akhirnya mendorong keputusan untuk menghentikan operasional perusahaan. Proses penutupan dilakukan secara bertahap, dengan penghentian produksi pada April 2026 dan dilanjutkan dengan penghentian operasional secara menyeluruh pada pertengahan tahun.

Perjalanan ini mencerminkan perubahan kondisi industri baja yang semakin kompetitif dan penuh tantangan, di mana faktor global dan domestik turut memengaruhi keberlangsungan usaha