ESSENSI.ID – Nama Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjangnya di dunia militer sebelum akhirnya memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade. Di balik perjalanan tersebut, tersimpan kisah unik mengenai julukan yang diberikan oleh Jenderal Gatot Soebroto kepada Soeharto muda, yakni “monyet”.

Bagi masyarakat saat ini, sebutan tersebut mungkin terdengar sebagai bentuk ejekan. Namun di lingkungan militer pada masa perjuangan kemerdekaan, panggilan dengan nama binatang justru menjadi bagian dari budaya kedekatan antarprajurit, khususnya bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan militer bentukan tentara kolonial Hindia Belanda (KNIL).

Gatot Soebroto dikenal sebagai satu-satunya perwira senior yang secara terbuka memanggil Soeharto dengan julukan tersebut. Keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat sejak sama-sama bertugas dalam berbagai operasi militer mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu kisah yang sering diceritakan terjadi saat Pertempuran Ambarawa. Ketika berada di medan perang, Gatot Soebroto dikisahkan pernah memanggil Soeharto dengan suara lantang. “Hei monyet, mari ke puncak sini.”

Alih-alih tersinggung, Soeharto justru mematuhi perintah atasannya. Selain menghormati senioritas Gatot, Soeharto juga menaruh rasa hormat karena menganggap sang jenderal sebagai sosok yang berjasa besar dalam perjalanan karier militernya.

Gatot Soebroto, Perwira yang Melindungi Anak Buah

Hubungan keduanya tidak hanya terjalin di medan tempur. Dalam buku Suharto: Sebuah Biografi Politik karya Robert Elson disebutkan bahwa Gatot Soebroto pernah menjadi penyelamat karier Soeharto ketika terancam diberhentikan dari Angkatan Darat.

Saat itu, Soeharto yang menjabat Panglima Kodam IV/Diponegoro dikabarkan terseret dugaan penyelundupan. Informasi tersebut membuat sejumlah petinggi Angkatan Darat, termasuk Jenderal AH Nasution dan Ahmad Yani, mempertimbangkan pemberian sanksi tegas.

Mengetahui kondisi tersebut, Gatot Soebroto memilih turun tangan. Ia menemui Presiden Soekarno dan meminta agar Soeharto diberi kesempatan memperbaiki diri. Gatot bahkan menjaminkan nama baiknya dengan keyakinan bahwa bawahannya masih layak dipertahankan.

Keputusan itu kemudian menjadi titik balik yang membuat karier Soeharto tetap berlanjut hingga akhirnya dipercaya menjadi Presiden Republik Indonesia.

Tokoh Penting dalam Sejarah Militer Indonesia

Jenderal Gatot Soebroto lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 10 Oktober 1907. Setelah menyelesaikan pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), ia sempat bekerja sebagai pegawai sebelum memilih mengikuti pendidikan militer KNIL di Magelang pada 1923.

Usai menamatkan pendidikan militer, Gatot bertugas sebagai anggota KNIL hingga berakhirnya pemerintahan kolonial Belanda. Ketika Jepang menduduki Indonesia, ia mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Gatot bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Berkat kepemimpinan dan keberhasilannya dalam sejumlah operasi militer, termasuk Pertempuran Ambarawa, Gatot dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis hingga berpangkat jenderal.

Dekat dengan Panglima Besar Soedirman

Selain dikenal dekat dengan Soeharto, Gatot Soebroto juga memiliki hubungan erat dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Meski memiliki pangkat lebih rendah, Gatot menganggap Soedirman sebagai sosok kakak sekaligus panutan. Kedekatan itu terlihat setelah Perjanjian Roem-Roijen pada 1949.

Ketika pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta, Soedirman masih memilih bergerilya. Gatot menjadi salah satu tokoh yang berhasil membujuk Panglima Besar agar kembali ke Yogyakarta pada 10 Juli 1949.

Memimpin Operasi Penumpasan Pemberontakan Madiun

Nama Gatot Soebroto juga tercatat dalam operasi penumpasan Pemberontakan PKI Madiun pada 1948.

Saat itu ia diangkat sebagai Gubernur Militer Wilayah II yang meliputi Semarang dan Surakarta. Bersama pasukan Divisi Siliwangi dari arah barat serta Divisi I dan Mobil Brigade Besar Jawa Timur dari arah timur, Gatot memimpin operasi untuk memulihkan keamanan.

Keberhasilannya dalam berbagai operasi menjadikan Gatot sebagai salah satu tokoh militer paling disegani pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Jenderal Gatot Soebroto meninggal dunia akibat serangan jantung pada 11 Juni 1962.

Seminggu setelah wafat, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 283 Tahun 1962 sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa.

Hingga kini, nama Gatot Soebroto tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah militer Indonesia. Selain kontribusinya dalam mempertahankan kemerdekaan, ia juga dikenang sebagai sosok yang berjasa menjaga perjalanan karier Soeharto, yang kelak menjadi Presiden kedua Republik Indonesia selama 32 tahun.

Catatan: Kisah mengenai julukan “monyet” bersumber dari berbagai catatan sejarah dan biografi tokoh, yang menggambarkan budaya pergaulan di lingkungan militer pada masa itu. Julukan tersebut dipahami sebagai panggilan akrab antarprajurit, bukan sebagai bentuk penghinaan.