Pedagang Hewan Kurban di Bekasi Keluhkan Kenaikan Harga Sapi Jelang Iduladha
ESSENSI.ID – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, pedagang hewan kurban di Kabupaten Bekasi mulai menghadapi tantangan penjualan akibat kenaikan harga sapi yang cukup signifikan. Kondisi tersebut turut dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang belum stabil.
Pemilik Ghita Farmer, Budiono, mengatakan penjualan hewan kurban tahun ini mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut dia, kenaikan harga sapi serta kondisi ekonomi masyarakat menjadi faktor utama turunnya penjualan.
Untuk mengantisipasi risiko kerugian, pihaknya memilih mengurangi jumlah stok sapi dan lebih mengutamakan sistem pemesanan dari pelanggan.
“Kami tidak menyetok terlalu banyak. Sebagian besar sapi yang tersedia berdasarkan pesanan pelanggan. Saat ini sudah lebih dari 100 ekor yang terjual,” ujar Budiono saat ditemui di kandang sapi Ghita Farmer, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Kamis (7/5).
Budiono menjelaskan, harga sapi kurban tahun ini mengalami kenaikan cukup tinggi, baik untuk sapi Bali maupun sapi lokal seperti limosin dan simental. Kenaikan harga dipicu menurunnya populasi sapi setelah merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa waktu lalu.
“Harga sapi Bali tahun lalu sekitar Rp48 ribu per kilogram. Sekarang naik menjadi Rp55 ribu sampai Rp58 ribu per kilogram di Bali,” katanya.
Kenaikan harga tersebut turut berdampak pada harga jual sapi kurban di tingkat peternak. Untuk sapi limosin berbobot 500 kilogram, harga yang sebelumnya berkisar Rp31 juta hingga Rp33 juta kini naik menjadi Rp33 juta hingga Rp35 juta. Sementara sapi Bali berbobot 400 kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp24 juta kini meningkat menjadi Rp26 juta per ekor.
Selain kenaikan harga, Budiono menilai kondisi ekonomi masyarakat turut memengaruhi minat pembelian hewan kurban. Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga sejumlah kelompok warga yang biasanya membeli hewan kurban secara patungan mulai mengurangi pembelian tahun ini.
“Biasanya di perumahan atau musala ada iuran kurban. Sekarang banyak yang menahan karena kondisi ekonomi,” ungkapnya.
Ia menyebut, sejauh ini penurunan penjualan berkisar antara 1 hingga 5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski demikian, penjualan masih berpotensi meningkat karena Iduladha masih berlangsung sekitar tiga pekan lagi.
“Tapi sepertinya turun ya, karena saya melihat jumlah pedagang sapi musiman di pinggir jalan mulai berkurang. Kayaknya karena harga sapi dan biaya operasional tinggi,” beber dia.
Untuk menyesuaikan kondisi pasar, Ghita Farmer tahun ini hanya menyediakan sekitar 150 ekor sapi. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai 350 hingga 400 ekor sapi.
Selain menjaga stok, pihak peternakan juga memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat dan telah menjalani vaksinasi. Khusus sapi asal Bali, vaksin PMK dan Lumpy Skin Disease (LSD) menjadi syarat wajib sebelum dikirim ke daerah tujuan.
“Kami juga melakukan vaksin mandiri untuk sapi limosin dan simental. Jadi kesehatan sapi tetap kami jaga,” tutup Budiono.

