Deny Haryadi: Talenta Digital Menjadi Nahkoda Menuju Indonesia Emas 2045
ESSENSI.ID – Pengembangan talenta digital dinilai menjadi faktor utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur digital tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa didukung sumber daya manusia (SDM) yang mampu menguasai, mengembangkan, dan memanfaatkannya.
Hal tersebut disampaikan Dosen Information Technology Telkom University, Deny Haryadi, saat menjadi pembicara pada sesi kedua talkshow Temu Nasional & Permitech Expo 2026 yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Informatika dan Komputer Nasional Republik Indonesia (PERMIKOMNAS RI), Sabtu (4/7/2026), di Balai Pelatihan Teknis (BPT) Komdigi Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Dalam paparannya, Deny mengatakan pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi merupakan salah satu pilar penting menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, penguatan talenta digital harus menjadi prioritas seiring dengan pembangunan infrastruktur teknologi.
“Teknologi hanyalah kapal, sementara talenta adalah nahkodanya. Infrastruktur atau teknologi secanggih apa pun tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa SDM yang memimpin, mengoperasikan, dan mengembangkannya. Jika talenta digital tidak dipercepat perkembangannya, bangsa kita hanya akan menjadi konsumen atau pasar bagi teknologi asing, bukan sebagai produsen teknologi,” kata Deny.
Menurutnya, pengembangan talenta digital tidak hanya mencakup kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan nonakademik seperti kepemimpinan, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Deny menilai generasi muda Indonesia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Namun, ia mengingatkan masih terdapat kesenjangan antara kemampuan memanfaatkan AI dengan kemampuan memahami cara kerja teknologi tersebut secara mendalam.
“Banyak yang sudah mahir menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi masih sedikit yang memahami cara kerja AI hingga mampu berpikir kritis terhadap hasil yang diberikan model AI. Tantangannya bukan hanya melek teknologi, tetapi bagaimana kita mampu menguasai teknologi dan melahirkan inovasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa percepatan pengembangan talenta digital membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri.
Pemerintah didorong memperluas akses internet, memperkuat program pelatihan serta beasiswa, dan menghadirkan regulasi yang mendukung inovasi.
Sementara itu, perguruan tinggi perlu menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri melalui pembelajaran berbasis proyek, sertifikasi kompetensi, dan literasi AI.
Di sisi lain, dunia industri dinilai perlu membuka lebih banyak ruang kolaborasi melalui program magang, upskilling, maupun reskilling, sekaligus berkontribusi dalam penyusunan kurikulum pendidikan.
“Pendidikan mengajarkan cara belajar, industri mengajarkan cara bekerja, dan pemerintah mempersiapkan infrastruktur serta kebijakannya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Deny mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam pengembangan talenta digital di Indonesia, yakni belum meratanya akses infrastruktur dan kualitas pendidikan, kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, serta persoalan budaya dan pola pikir.
“Tantangan terbesar bukan pada teknologinya, tetapi pada SDM dan budaya yang memimpinnya,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Deny mengajak generasi muda untuk tidak berhenti menjadi pengguna teknologi, melainkan mulai menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
“Jadilah inventor, bukan hanya sebagai pengguna teknologi. Jadikan belajar sebagai gaya hidup. Mulailah memimpin dari hal yang kecil dimulai dari organisasi atau komunitas karena Indonesia Emas 2045 dibangun dari hal-hal kecil tersebut,” pungkasnya.
Sesi talkshow tersebut merupakan bagian dari rangkaian Temu Nasional & Permitech Expo 2026 yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri untuk membahas pengembangan ekosistem digital serta penguatan talenta digital nasional menuju Indonesia Emas 2045. (red)

